BERKOMUNIKASI DENGAN LANJUT LANJUT USIA

ng nenek berbicara terus dengan cucunya yang masih muda. Sedangkan anak-anaknya sudah bosan mendengar si nenek bercerita. Si nenek berbicara tanpa hentinya mengenai kisah hidup yang dijalaninya. Menit- demi menit berlalu tanpa henti hingga dua jam sudah berlalu. Selama waktu yang berlalu ternyata si cucu hanya mendengarkan terus kisah yang diceritakan si nenek kepada cucunya. Hingga pada akhirnya si cucu tertidur karena tidak tahan mendengar lama cerita si nenek tersebut.

Mungkin ilustrasi yang disampaikan oleh penulis tersebut sederhana dan tidak perlu diperdulikan oleh kita yang membacanya. Tetapi hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama bahwa seseorang yang telah masa tuanya akan bercerita kepada lingkungan sekitarnya. Pertanyaannya muncul didalam benak kita mengapa hanya si cucu yang mau mendengarkan, dimana anak-anak si nenek tersebut? Mungkin ada bisa menjawabnya.

Pembicaraanya tersebut merupakan komunikasi antara dua individu yang berbeda eranya (zamannya). Si nenek mungkin telah merasakan “ asam garam dunia” sedangkan si cucu masih sedikit mengetahui tentang dunia ini karena masih memiliki orang tua.

Komunikasi adalah mekanisme berhubungan dengan dunia. Banyak orang memandang perkembangan dirinya melalui komunikasi dengan orang lain.

Seseorang yang tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain dengan baik akan mempunyai perasaan rendah diri, terasing dari lingkungan sosialnya.

Kemampuan untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan seseorang adalah hal yang utama untuk berinteraksi dengan kelayan. Keterampilan berkomunikasi memainkan peranan penting dalam praktek dengan lanjut usia dan juga lanjut usia yang lemah (H. Wiemann dan dkk ;1994). Sebaliknya, orang-orang percaya bahwa tidak ada bentuk umum yang mempelajari komunikasi dengan lansia. Para ahli menjelaskan keterkaitan antara umur yang membedakan dalam berkomunikasi dengan lansia tetapi para ahli tersebut menyarankan bahwa berkomunikasi dengan lansia adalah cara yang hampir sama dengan kelompok usia lainnya.

Jika lanjut usia sulit berkomunikasi, lansia selalu menghubungkannya dengan perubahan usia baik indera sensorik maupun kognitif (daya ingat) yang dialaminya. Perubahan kognitif tersebut digambarkan dengan adanya penuaan antara lain lambatnya proses informasi seseorang, pemusatan pikiran dan upaya pemecahan masalah ( Siegler et al ; 1996). Bagaimanapun, setiap individu mengalami perubahan kognitif dan tidak semua lansia mengalami pengalaman yang sama caranya. Ada individu yang berbeda pengalamannya melalui gaya hidup, faktor psikososial dan akibat perubahan genetik (finch dan Tanzi; 1997; Gottkeeb; 1995). Masalah daya ingat dapat juga menyebabkan depresi hidup daripada akibat penuaan. Perubahan sensor indera sebagai akibat penuaan tubuh meliputi perubahan visi, pendengaran, rasa, senyuman dan indera sentuhan. Beberapa perubahan yang terjadi dalam komunikasi dalam praktek ilmu gerontologi adalah kenyataan yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi kesehatan kronis daripada dari yang dialami lansia. Sebagai contoh, penderita stroke juga mengalami masalah dalam berkomunikasi.

Berdasarkan penelitian oleh Ryan (1994) “ Lanjut Usia dalam berkomunikasi sering menggunakan perbendaharaan kata yang terbatas daripada anak muda. Hal ini disebabkan adanya stereotipe dan persepsi orang muda terhadap lanjut usia sehingga akan berdampak juga pada proses komunikasi. Sehingga lansia tidak bisa tidak dalam berkomunikasi dengan orang lain harus mengubah bentuk komunikasi. Bentuk komunikasi adalah ciri karakteristik (tata bahasa dan berbicara lambat) dengan menggunakan strategi pengenalan (kalimat sederhana dan penuh artikulasi) dan nada (tone).

Peneliti menyarankan disaat lansia telah memiliki stereotipe yang negatif, lansia lebih suka menjadi target pola komunikasi ini (Hummert;1990). Jadi bagi praktiisi penting untuk menghindari pola pembicaraan saat berkomunikasi dengan lansia atau klien lansia yang lemah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s